Friday, July 19, 2013

Puasa Ramadhan ala Mufid

Schiedam, 18/07/2013

Hari ini hari yang ke sepuluh di bulan Ramadhan tahun ini, 1434 H. Artinya 10 hari pertama yang mengandung rahmat sudah kita lewati dengan baik. Walaupun beberapa hari terakhir ini cuaca agak sedikit panas dibandingkan awal Ramadhan dengan suhu berkisar 25-28 Celsius tapi masih cukup mendukung kelancaran ibadah puasa.

Ada hal yang menarik saat aku mengamati tingkah laku Mufid di bulan Ramadhan ini. Waktu memang berjalan begitu cepat dan ga terasa bulan Maret kemarin Mufid sudah genap berumur 7 tahun. Tahun lalu Mufid, Dira dan Mama sudah mudik duluan sebelum bulan Ramadhan jadi Mufid belum merasakan beratnya berpuasa saat summer di Belanda. Mmmhh.....2 tahun lalu Mufid kayaknya masih terlalu kecil untuk sadar kalo harus puasa.

Hari Pertama
Sehari sebelum Ramadhan si Mama mulai berusaha ngajak Mufid biar besoknya mau ikut puasa, Mufid rada manyun dan bilang dia ga bakalan kuat puasa. Tapi ternyata besok paginya Mufid bilang kalo dia pengen puasa akhirnya sebelum berangkat sekolah Mufid sarapan seperti biasanya cuma istilah Mufid makan sahur dulu hehe.....Pulang sekolah Mufid cerita kalo temen-temennya baru mulai puasa besoknya (Rabu, 10 Juli 2013) jadi tadi di sekolah cuma Mufid sendiri yang puasa. Akhirnya pertahanan Mufid jebol gara-gara hari itu salah seorang temennya membagi-bagikan coklat buat semua temen-temennya. Mufid nyerah dan akhirnya kalah dengan godaan sepotong coklat pemberian temennya.

Hari Kedua
Pagi itu sebelum berangkat sekolah Mufid makan sahur seperti hari pertama. Mufid bilang dia pengen puasa lebih lama ga kayak kemaren. Dan Mufid berhasil puasa sampe sore. Waktu Papa pulang Mufid dengan bangga bilang kalo hari itu dia puasa sampe sore. Tapi Papa ga mau kalah dan menantang Mufid untuk puasa lebih lama. Begitu terus selama beberapa hari Mufid puasa selama 8-10jam sehari.

Hari kesepuluh
Jam2.30 pagi Papa dan Mama sedang makan sahur tiba-tiba Mufid bangun dan bilang pengen ikut juga makan sahur. Sehabis makan sahur dan sholat Subuh kami kembali tidur. Tadi siang sewaktu Papa masih di kantor Mama cerita kalo Mufid masih semangat puasa, Alhamdulillah......seneng banget Papa dengernya. Ketika sore hari Papa sampai dirumah ternyata Mufid masih puasa wuih.....hebat. Tapi bau masakan Mama ternyata menggoda Mufid untuk buka puasa walaupun sudah diingatkan kalo waktu berbuka hanya tinggal 2 jam lagi. Jam9 malem akhirnya Mufid menyerah dan bilang dia pengen buka puasa. Mufid pun minum dan makan dengan lahapnya. Goed zo Mufid......hari ini Mufid udah kuat puasa 18 jam.

Mudah-mudahan besok dan hari-hari selanjutnya bisa kuat sampe maghrib ya Nak......

    

Wednesday, July 17, 2013

Suasana Ramadhan - Musim Panas 2013 di Belanda

Schiedam, 16/07/2013

Alhamdulillah.......
Ga terasa bulan Ramadhan tahun ini udah memasuki hari ke-8. Tahun ini merupakan keempat kalinya aku merasakan suasana bulan Ramadhan di Belanda. Tahun ini hari pertama puasa jatuh pada tanggal 9 Juli.2013. Walaupun sebagian ada yang baru berpuasa pada tanggal 10 Juli. Bulan Ramadhan tahun ini cukup istimewa karena jatuh pada pertengahan tahun waktu musim panas atau zomertijd istilah wong Londo. Mungkin ada yang penasaran trus nanya "emang kenapa kalo pertengahan tahun?". Buat yang belum merasakan tinggal di negara dengan empat musim seperti Belanda mungkin belum tau kalo saat musim panas siang jauh lebih panjang daripada malam, matahari bersinar sekitar 19-20jam dalam sehari. Awal Juli biasanya matahari terbit sekitar jam5.30 dan terbenam sekitar jam22.00. Untuk yang berpuasa waktu berpuasa menjadi lebih panjang dibandingkan di tanah air. Waktu Subuh sekitar jam3.00 dan baru bisa berbuka puasa ketika waktu maghrib tiba sekitar jam22.00 alias jam10 malem jadi kita harus berpuasa sekitar 19 jam. Wow.....biasanya teman-teman yang belum pernah merasakan puasa selama 19 jam langsung berfikir ga bakalan kuat deh atau jangan-jangan malah bisa pingsan nungguin waktu buka hehe.....

Tapi kenyataannya berpuasa di musim panas di Belanda tidak seberat yang dibayangkan. Walaupun cuaca musim panas terkadang cukup menyengat bisa mencapai 34-35 Celsius tapi biasanya kondisi tersebut hanya terjadi hanya 2-3 minggu saja. Tahun ini cuaca musim panas cukup bersahabat berkisar 17-22C dan berbeda dengan di Indonesia yang tingkat kelembabannya tinggi (high humidity) dan mengakibatkan kita berkeringat dan terasa haus, udara di Belanda cenderung kering sehingga ketika kita berpuasa tidak terlalu merasakan haus seperti di tanah air. Waktu berbuka dan waktu sahur yang tidak terlalu jauh juga memerlukan adaptasi pola makan yang tepat.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sebelum memasuki bulan Ramadhan masyarakat Indonesia di Belanda sudah menyiapkan berbagai program Ramadhan seperti buka puasa bersama, tadarus online, kegiatan anak-anak yang islami dll. Buka Bareng Schiedam-ers di rumah Kang Didin dan Teh Risah di hari ketiga puasa menambah eratnya silaturahmi diantara keluarga Indonesia di Schiedam. Keesokan harinya kami berkumpul dengan teman-teman Ngumpul Ngaji di kediaman Mas Enang dan Mbak Een di Leidschenveen. Himpunan Masyarakat Muslim Indonesia di Rotterdam (HIMMI) bahkan setiap hari Sabtu menyewa sportzaal untuk kegiatan Ramadhan dari mulai berbuka puasa bersama, sholat maghrib berjamaah dan ditutup dengan sholat Isya dan sholat tarawih berjamaah.

Suasana Ramadhan juga mewarnai kegiatan rutin di sekolah Mufid dan Dira di Islamiticshe Basisschool El Furkan di Schiedam. Tentunya semua itu sedikit mengobati rasa kangen dengan suasana Ramadhan di tanah air.. Mudah-mudahan aku dan keluarga bisa lebih semangat untuk berlomba-lomba meningkatkan amal ibadah selama bulan Ramadhan ini. Amiiiin......  

Monday, June 24, 2013

Galau

Schiedam, 24 Juni 2013


Galau......
Lagi musim nih...ga ngerti juga kenapa akhir-akhir ini populer banget. Dikit-dikit pasti ada yang komen pake kata ini. Liat di fb adaaa aja yang nulis kata "Galau" ini hehe...Sebenernya apa sih artinya? Karena penasaran iseng aku coba googling apa sih arti galau ini. Ternyata galau bisa diartikan sebagai suasana yang ramai sekali atau fikiran yang sedang kacau.

Pertanyaannya sekarang apakah aku sedang galau? mmmh.....pertanyaan yang cukup sulit untuk aku jawab. Kalo liat definisi kata galau diatas, rasanya fikiranku sedang tidak kacau, aku masih bisa berfikir jernih. Sedang banyak masalah? nggak juga tuh, biasa aja. Tapi memang ada beberapa hal yang sedang aku fikirkan dan aku harus memilih dan membuat keputusan yang terbaik buat aku dan keluargaku.

Aku cukup beruntung bisa berkarir sebagai seorang engineer. Kondisi pekerjaan yang santai, office based, beruntung mempunyai kesempatan bisa mencicipi pengalaman berinteraksi dengan beraneka ragam manusia tidak hanya di tanah air tapi juga bisa berkarir di luar negeri. Tapi disisi lain aku dan keluargaku harus mengalami berada jauh dari keluarga besarku dan tinggal di negara dengan budaya yang berbeda. Terus terang aku kadang merasa jenuh dan pengen balik tinggal di Indonesia.

Bekerja sebagai engineer di oil&gas itu memang sangat menarik. Seiring waktu tawaran untuk bekerja di suatu negara semakin banyak. Supply dan demand untuk posisi engineer memang tidak seimbang. Aku mempunyai pilihan untuk bekerja dan tinggal di Indonesia atau seperti sekarang bekerja di luar negeri. Pengalamanku 3 tahun terakhir menetap di Belanda memang membutuhkan usaha dan energi ekstra untuk menjaga kehidupan religius aku dan keluargaku tetap berjalan lancar.  Alhamdulillah sekarang Mufid dan Nadira bisa bersekolah di El Furkan, sebuah sekolah Islam negeri di Schiedam yang sehari-harinya dilalui dengan suasana yang islami ditengah-tengah kepungan budaya barat yang hedonis. Pergaulan dengan teman-teman Indonesia di Belanda juga cukup membuat aku dan istriku lebih optimis dengan pendidikan anak-anak kami.

Mufid sekarang sudah 7 tahun. Alhamdulillah dia sudah rutin sholat 5 waktu, mengaji dan berharap lingkungan Islami di rumah dan di sekolah bisa membentuk kepribadiannya menjadi anak yang sholeh. Beberapa bulan terakhir aku mulai berfikir soal ibadah sholat Jumát setiap minggunya. Aku kemudian berfikir untuk mencari pilihan lain untuk karirku, berusaha mencari pekerjaan yang lebih dekat dari rumahku di Schiedam, kembali bekerja di Indonesia atau mencari negara yang mempunyai libur nasional setiap hari Jumát dan Sabtu sehingga aku bisa mengajak Mufid untuk bersama-sama ke mesjid menunaikan ibadah sholat Jumát.

Yup......hidup adalah soal pilihan. Pilihan terbaik hanya kita yang bisa merencanakan walaupun yang memutuskan sesuatunya hanya Allah Tuhan Semesta Alam. Dan aku selalu yakin semua yang ditakdirkan-Nya adalah yang terbaik.

00.43 CET 24 Juni 2013 Happy Birthday to Me......hehe...

Friday, June 14, 2013

Duitsland (1)

Schiedam, 25/05/2013

Duitsland........
Mungkin ada yang bingung apa atau dimana itu Duitsland. Gimana kalo Deutschland? Nah.....kata ini mungkin lebih familiar buat orang Indonesia. Yup.....Duitsland adalah negara Jerman dalam bahasa Belanda. Tetangga sebelah selatan Belanda ini memang menarik untuk dijelajahi. Walaupun kami sudah beberapa kali mengunjungi tetangga di bagian selatan ini tetapi negara ini tetap menarik untuk dikunjungi karena terdiri dari 18 states dan mempunyai karakteristik yang berbeda-beda satu sama lain.

Perjalanan kali ini bertepatan dengan libur sekolah dan long weekend, 27 Mei sampai dengan 30 Mei 2013. Walaupun lagi-lagi aku dan keluargaku kembali melewatkan Koninginedag atau Queen's Day yang merupakan perayaan hari ulang tahun Ratu Beatrix. Koninginedag tahun ini istimewa karena merupakan Koninginedag terakhir karena Ratu Beatrix akan turun tahta dan digantikan Putra Mahkota Pangeran Willem Alexander. Jadi mulai tahun depan perayaan yang sama bukan lagi disebut Koninginedag tapi berganti menjadi Koningdag atau King's Day yang akan diadakan setiap tanggal 27 April. Dimana-mana di seluruh Belanda penuh dengan warna Oranye dan segala pernak pernik yang berhubungan dengan Koninginedag termasuk di setiap sekolah murid-murid melakukan berbagai macam perlombaan seperti balap karung dll.

Tepat jam5.30 kami berangkat menuju meeting point di rest area De Andel di dekat Gouda. Cuaca pagi itu cukup cerah walaupun lumayan sejuk berkisar 7-10 derajat Celcius. Sesuai rencana kami akan konvoi dengan teman sekantorku Saifudin dan keluarganya. Setelah menunggu sekitar 20 menit akhirnya yang ditunggu-tunggu nongol juga. Kami segera berangkat menuju ke kota yang dituju. Kota pertama yang akan kami kunjungi adalah Celle yang berjarak sekitar 450 km dari Schiedam. Celle adalah sebuah kota kecil yang sudah berdiri lebih kurang 1000 tahun dan terkenal dengan timber-framed houses atau rumah-rumah tuanya yang yang rangkanya terbuat dari kayu. http://wikitravel.org/en/Celle. Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam kami sampai di perbatasan Belanda-Jerman. Seperti perbatasan dengan negara Schengen yang lain, petunjuk border antar negara biasanya hanya sebuah rambu berbentuk lingkaran tertulis nama negara dan lingkaran 12 bintang sebagai lambang European Union (EU). 

Tak terasa setelah lebih kurang 5jam di perjalanan kami sampai di kota Celle. Udara musim semi yang sejuk diselingi hujan gerimis menyambut kedatangan kami. Kami parkir di kawasan Alstadt (Oldtown) Celle persis di sebelah French Garden


Setelah beristirahat sejenak di taman kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri kawasan Alstadt Celle yang dipenuhi bangunan kayu yang sudah berdiri ratusan tahun. 

Perjalanan diakhiri dengan kunjungan ke Celle Castle yang dibangun di abad ke-13.


Setelah puas menikmati kota Celle maka kami melanjutkan perjalanan ke Dresden yang berjarak sekitar 370 km dari Celle. Sekitar jam19.00 kami sampai di Dresden dan langsung menuju ke hotel. Setelah melepas penat sejenak di hotel maka kami sepakat untuk menikmati suasana petang dan malam hari di Dresden.

Minggu pagi kami melanjutkan perjalanan ke Bastei yang berjarak sekitar 40 km dari Dresden. Alhamdulillah cuaca lumayan cerah. Bastei terkenal dengan sand stonenya yang menjulang berdiri di lembah dengan kedalaman 50-100m. Ada beberapa jembatan yang menghubungkan satu sand stone dengan sand stone yang lain. Benar-benar menakjubkan pemandangan disini, indah banget.


Jam menunjukkan pukul 2 siang. Kami dan Saifudin&kel sepakat untuk berpisah di Bastei karena mereka akan melanjutkan perjalanannya ke Praha, Republik Ceko sedangkan kami akan langsung menuju Berlin. Masih penasaran dengan Dresden maka kami kembali ke kota Dresden. Cuaca yang cerah memberikan semangat lebih untuk mengexplore segala keindahan arsitektur di kawasan kota tua Dresden. Sesampainya di Dresden kami pun berkeliling menikmati indahnya kota Dresden. Kota Dresden dibelah sungai Danube yang dihubungkan dengan beberapa jembatan. Salah satu yang terkenal adalah Augustus Brucke (Jembatan Augustus) yang telah berusia beberapa ratus tahun. Jembatan ini terletak persis di depan Dresden Dom dan selalu dipenuhi turis yang mengabadikan keindahan kawasan ini.
Foto.......

Kami juga mampir ke Zwinger Palace, sebuah istana yang mempunyai arsitektur yang indah dan lokasinya juga masih di kawasan yang sama dengan Dresden Dom dan Augustus Brucke.

Puas menikmati kota Dresden dan tidak ingin terlalu malam sampai di kota berikutnya maka sebelum sunset sekitar jam19.30 kami meninggalkan Dresden menuju Berlin.....here we come!!






Sunday, May 12, 2013

Ardennes, Belgium

Schiedam, 12/5/2013

Menjelajahi tempat-tempat baru selalu menarik. Minggu lalu setelah mendengarkan cerita seorang teman, aku tertarik untuk mengunjungi kawasan Ardennes. Ardennes adalah kawasan yang meliputi Belgia, Luxembourg dan Perancis. Karena jarak yang tidak terlalu jauh aku dan istriku memutuskan untuk berangkat Sabtu pagi setelah Subuh dan balik ke Schiedam malam harinya. Musim semi di Belanda waktu sholat Subuh sekitar jam3.30 sedangkan waktu Maghrib sekitar jam21.30. Waktu yang cukup panjang untuk menjelajahi Ardennes. Tiga kota tujuan adalah Durbuy, Dinant dan Namur.

Sabtu pagi setelah beres-beres ternyata target berangkat jam6 gagal, duo Asradya masih molor dengan nyenyaknya. Tunggu punya tunggu jam8 pagi dua-duanya baru bangun. Akhirnya jam9.00 kami berangkat, kota tujuan pertama adalah Durbuy yang katanya the smallest city in the world yang berjarak sekitar 270 km dari Schiedam dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Perjalanan dari Schiedam via Hasselt dan Liege ditempuh dengan lancar walaupun hujan turun dengan derasnya. Dari Liege ke Durbuy menyajikan pemandangan alam yang indah, jalan berkelok, kawasan peternakan dan pepohonan yang hijau membuat sejuk mata memandang. Harap-harap cemas dengan cuaca hari itu karena berdasarkan prakiraan cuaca hujan akan turun dari pagi sampai malam hari.


Jam12.00 kita sampai di Parc de Topiares dan cuaca cerah!!! yeay.....duo Asradya tidak sabar untuk segera masuk ke dalam taman. Parc de Topiaires merupakan salah satu tempat yang paling menarik di Durbuy selain kota tuanya. Topiary Park adalah masterpiece hasil karya Albert Navez yang dibuat dari tumbuhan dengan bentuk-bentuk menarik dari mulai bentuk hewan, manusia dll.



Kota Durbuy walaupun kecil tetapi didatangi banyak wisatawan terutama wisatawan lokal yang berkunjung menikmati waktu bersantai bersantap siang dan minum minuman dingin sambil menikmati udara musim semi dan sinar matahari di cafe dan restoran disekitar kota tua Durbuy.



Puas menikmati suasana Durbuy, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Dinant. Dinant berjarak 50 km dari Durbuy. Perjalanan dari Dinant tidak kalah indahnya dengan pemandangan menuju Durbuy. Hujan kembali turun dengan derasnya di sepanjang perjalanan. Waktu sudah menunjukkan jam18.00 ketika kami sampai di Dinant. Cuaca kembali cerah dan matahari menampakkan sinarnya. Jalan yang berkelok-kelok menyusuri alur sungai dengan sinar matahari petang yang hangat merupakan waktu yang tepat untuk mengabadikan kota Dinant. Tebing batu yang terbelah dua dan hanya cukup dilalui satu mobil cukup menakjubkan.


Akhirnya kami pun sampai ke tujuan utama, Dinant Citadel. Walaupun sedikit kecewa karena tidak berhasil naik kereta gantung dari Dinant Citadel yang berada di atas bukit tetapi kekecewaan itu terobati dengan pemandangan yang indah dari seberang sungai.

Selesai motret hujan kembali turun dengan derasnya.

Tidak punya waktu banyak tapi aku tetap memutuskan untuk mampir di Namur. Selain letaknya yang tidak terlalu jauh dari Dinant, hanya sekitar 30 km, rute pulang ke Schiedam juga melewati kota Namur ini. Jam20.30 kami sampai di Namur. Setelah puas berkeliling maka kami pun menuju Namur Citadel yang seperti Dinant Citadel berada di atas sebuah bukit dengan view kota Namur dibawahnya. Jalan menanjak tajam dan berkelok mengingatkan akan kampung halamanku di Sumatera Barat. Ternyata di atas bukit juga ada sebuah istana walaupun kondisinya kurang terawat. Beberapa remaja tanggung asyik nongkrong di depan istana tersebut sambil menikmati suasana senja di Namur.



Jarum jam ditanganku menunjukkan jam21.00. Kami memutuskan untuk pulang ke Schiedam. Hari yang menyenangkan dengan tempat-tempat yang menarik

Sunday, January 13, 2013

Pengajian PPMR - 12 Januari 2013

Schiedam, 13/01/2013

Sabtu kemaren dalam cuaca yang agak mendung dan udara musim dingin yang mulai menusuk tulang, aku dan teman-teman PPMR berkumpul kembali di kediaman Meditya Wasesa (Medit) di Rotterdam. Ada beberapa teman-teman juga yang baru bergabung, mereka baru beberapa bulan melanjutkan studinya di Rotterdam. Pembicara yang hadir memberikan materi adalah Kang Deden Permana, teman baik sekaligus tetanggaku di Schiedam. Beliau merupakan Ketua PIP PKS.

Sholat Zuhur berjamaah segera dilakukan karena waktu sholat telah tiba, Kang Deden bertindak sebagai Imam. Setelah itu pengajian dibuka oleh Ketua PPMR, Ahmad Fuady yang dilanjutkan pembacaan ayat suci Al Qurán oleh Fasha. Setelah itu dilanjutkan materi oleh Kang Deden tentang "Peran Pemuda Dalam Peradaban Dunia". Beliau memaparkan tentang peran penting yang diemban oleh pemuda dalam membentuk dan mengubah peradaban dunia. Dilihat dari sejarah bahwa pemuda selalu berperan aktif dalam perubahan yang terjadi sejak jaman dahulu. Begitu juga dijaman sekarang peran pemuda tetap diharapkan untuk dapat mendorong negara kita ke arah yang lebih baik. Baik itu mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Rotterdam atau yang bekerja mengaplikasikan ilmunya. Kita berharap cendekiawan-cendikiawan muslim yang sekarang menuntut ilmu di luar negeri akan dapat berperan penting berbuat hal yang positif ketika balik ke tanah air. Setelah pemaparan materi ada sesi diskusi dan tanya jawab. Ada beberapa hal yang berhubungan dengan fikih ditanyakan oleh teman-teman yang hadir seperti kesulitan beribadah di kampus, jadwal kuliah atau ujian yang bentrok dengan jadwal sholat Jumát dll.

Setelah diskusi selesai maka semua yang hadir dipersilahkan menyicipi hidangan yang disediakan tuan rumah. Menu kali ini adalah soto Bandung mmhh....nikmat. Menikmati hidangan khas tanah air dan berkumpul bersama-sama teman di rantau merupakan pengalaman yang menyenangkan.

Indahnya silaturahim.....

Saturday, May 19, 2012

si FOMO

Schiedam, 19/05/12

Pagi itu seperti biasa aku menjalani rutinitas pagi. Udara pagi musim semi yang segar mengiringi kepergianku ke station Schiedam Centrum. Sembari menunggu kereta yang akan membawaku ke Leiden untuk menjalani aktifitasku iseng aku membaca koran yang setiap pagi tersedia di station.

Ada sebuah artikel yang menarik perhatianku. Artikel yang berisi tentang penelitian terhadap kelakuan remaja di Belanda. Artikel yang menjelaskan tentang tingkah laku si FOMO. Akhir-akhir ini si FOMO ini memang sedang naik daun. Nyaris kemanapun aku pergi aku bertemu dengan si FOMO ini bukan hanya di kota-kota besar di Belanda seperti Amsterdam atau Rotterdam tapi juga sampai ke pelosok desa kecil di Belanda. Bukan hanya di kendaraan umum tapi juga ketika aku bersepeda, jalan-jalan di Centrum atau bahkan ketika di snelweg (highway) aku sering bertemu dengan si FOMO ini. Yup.....sepertinya si FOMO dan teman-temannya ada dimana-mana.

FOMO atau Fear Of Missing Out adalah sebuah perasaan ketakutan akan kehilangan suatu momen atau kejadian. Sepertinya itu hal yang wajar tetapi menjadi hal yang tidak wajar ketika rasa takut kehilangan itu berkembang menjadi kekhawatiran yang berlebihan dan rasa keinginantahuan tentang apa yang terjadi di sekitarnya itu menjadi kebutuhan yang mendesak. Social media seperti Facebook atau Twitter menjadi salah satu pemicu seseorang menjadi FOMO. Begitu juga dengan kecanduan yang berlebihan dengan BBM dan WhatsApp. Ketika ruang pribadi dibuka sedemikian dan berubah menjadi ruang publik maka jarak dan waktu menjadi semakin relatif. Orang berlomba-lomba mengumbar kehidupannya dengan harapan semua orang bisa melihat dan tau apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Orang lain yang terpisah puluhan ribu kilometer darinya bisa tau dengan detail apa yang dikerjakannya. Ada yang suka mengumbar foto-foto menu makanannya hari itu mulai menu sarapan, makan siang, makan malam, jajan pagi, jajan sore, gerobak si Mang baso langganannya sampai aksinya di depan gedung restoran kesukaannya agar bisa dilihat teman-temannya di seluruh penjuru dunia. Hal ini memicu orang untuk semakin ingin tau dengan hal-hal yang selama ini tersembunyi.

Berbincang dengan si FOMO ini merupakan tantangan tersendiri. Konsentrasi yang terbagi antara gadget dan lawan bicara terkadang setelah berkali-kali ditegur dan tetap tidak berhasil menimbulkan keinginan untuk menggampar si FOMO ini supaya dia sadar ada seseorang yang sedang duduk dihadapannya, helloooooo.....I am here, you are not alone. Aksi si FOMO ini bukan hanya saat duduk tetapi juga saat jalan, saat bersepeda bahkan saat menyetir karena sibuk dengan BBM, WhatApp atau facebook-nya. Jadi jangan heran ketika di jalan ada mobil yang tiba-tiba pelan boleh jadi si FOMO sedang beraksi dan sedang masuk ke dunia mayanya. Walaupun telinga si FOMO ini jarang mendengar suara orang lain di sekitarnya tapi ajaibnya telinga si FOMO ini sangat sensitif dengan bunyi Blackberry atau Androidnya. Suatu hal yang menjadi pantangan buat si FOMO ini, jangan biarkan gadgetmu menderita karena dibiarkan tergeletak sendirian. Ambil dia, peluk dia, sayangi dia hehe.....lebay :-p

Kembali ke cerita artikel diatas. Dari hasil penelitian tersebut diketahui remaja FOMO ini mengalami kegelisahan dan stress, tidak dapat konsentrasi di sekolah yang tentu saja berakibat penurunan prestasi belajar. Remaja-remaja bermasalah ini kemudian mengikuti terapi untuk mengurangi tingkat ketergantungan mereka terhadap social media. Mereka dilatih untuk tidak lagi mempunyai rasa ingin tahu yang terlalu tinggi dengan aktifitas yang dikerjakan teman-temannya. FOMO itu tidak hanya menghidapi remaja tetapi juga banyak orang dewasa yang terjangkit "penyakit" ini.

Jadi apakah kamu termasuk si FOMO?

"Macet lagi macet lagi gara-gara si FOMO lewat..."