Rotterdam, 11 Feb 2012
Sabtu malam ini walaupun udara musim dingin masih terasa menusuk tulang tapi antusiasme jamaah untuk datang menghadiri pengajian HIMMI masih cukup tinggi. Dimulai dengan belajar mengaji dilanjutkan sholat Isya berjamaah. Setelah itu tadarus bersama membaca surat Al Baqarah ayat 255 (Ayat Kursi).
Pak Hamdi memulai ceramah dengan mengajak jamaah untuk menghafalkan Ayat Kursi ini. Manfaatnya bisa sebagai obat untuk menenangkan fikiran ketika kita menghadapi masalah. Ketika fikiran kita tenang maka kita bisa dengan jernih mencari solusi untuk masalah kita itu. Manfaat lain adalah menghindarkan kita dari sihir, santet atau dari seseorang yang mempunyai niat buruk kepada kita dan keluarga kita.
QS Al Baqarah : 255
255. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi [161] Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Ayat ini tidak terlalu panjang tetapi mempunyai makna yang luas. Menerangkan tentang kebesaran dan keagungan Allah SWT. Dialah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Tahu, Maha Tinggi lagi Maha Besar. Sihir, magic, santet dll yang menggunakan pertolongan dari jin tidak akan mungkin mengalahkan kekuasaan Allah SWT. Tidak ada yang patut disembah selain-Nya. Hanya kepada Allah SWT kita memohon pertolongan.
Setelah ceramah, hidangan makan malam dengan menu spesial Indonesia menanti para jamaah. Menikmati santap malam dan bertukar cerita dengan bapak dan ibu senior yang sudah lebih lama tinggal dan menetap di Belanda sedikit banyak menjadi pengobat kerinduan dengan keluarga di tanah air.
Referensi:
http://www.alquran-indonesia.com
Sunday, February 19, 2012
Pengajian HIMMI - 18 Feb 2012
Rotterdam, 18 Feb 2012
Pengajian HIMMI Sabtu malam ini seperti biasa dilaksanakan selepas sholat maghrib bertempat di Ibn Khaldun, Rotterdam. Dimulai dengan belajar Al-Quran. Ada kelompok bapak-bapak, kelompok ibu-ibu dan kelompok remaja+anak-anak. Teman-teman yang kemampuannya relatif lebih baik dengan sukarela membimbing teman-teman lain yang masih tertatih-tatih dalam membaca ayat suci Al-Qur'an. Tanpa melihat umur semua jamaah tetap bersemangat untuk belajar mengaji. Tidak ada kata terlambat untuk belajar.
Tak lama setelah itu adzan Isya berkumandang. Semua bersiap-siap melaksanakan sholat Isya berjamaah. Setelah sholat Isya maka seperti biasa dilanjutkan dengan tadarus Al Qur'an. Malam ini dipilih 3 ayat terakhir dari Surat Al Baqarah yaitu ayat 284 sampai 286 yang terjemahannya sebagai berikut:
QS Al Baqarah 284-286
284. Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
285. Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta'at." (Mereka berdo'a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."
286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."
Setelah tadarus, Pak Hamdi seperti biasa memberikan ulasan dari ayat yang dibaca. Materi yang dibahas masih ada hubungannya dengan pengajian minggu lalu yang membahas tentang manfaat membaca Ayat Kursi. Ketiga ayat diatas bila rutin dibaca Insya Allah akan menghindarkan kita dari sihir dan niat jahat . Ayat-ayat diatas juga baik untuk dibaca ketika sakit fisik maupun ketika kita mempunyai masalah.
Beliau menjelaskan ayat 284, bahwa jika kita mempunyai niat yang ikhlas dalam membantu orang lain Insya Allah kita akan mendapatkan balasan dari Allah SWT, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Ketika kita membantu fakir miskin dengan ikhlas tanpa ada niat riya atau sombong di hadapan teman atau tetangga maka niat dan perbuatan kita itu dihitung sebagai pahala dan diberi ganjaran yang setimpal oleh Allah SWT. Dan urusan kita pun akan diberi kemudahan.
Sedangkan ayat 285 dan 286 menjelaskan bahwa iman semua manusia itu naik turun. Hal itu dipengaruhi lingkungan sekeliling kita. ada kalanya kita malas untuk sholat, malas untuk mengaji, lupa bersyukur atas nikmat-Nya. Maka kita seharusnya memohon ampunan dan perlindungan dari Allah SWT dan juga memohon agar kita dapat dengan ikhlas menerima semua cobaan yang diberi-Nya. Karena sesungguhnya Allah SWT memberikan cobaan ke hambanya sesuai dengan tingkat keimanan dan kadar kemampuannya masing-masing. Dalam ayat ini juga terkandung do'a yang baik sekali untuk diamalkan.
Pengajian diakhiri dengan makan malam bersama dengan menu-menu khas Indonesia buatan ibu-ibu HIMMI. Alhamdulillah.....
Referensi:
www.alquran-indonesia.com
Pengajian HIMMI Sabtu malam ini seperti biasa dilaksanakan selepas sholat maghrib bertempat di Ibn Khaldun, Rotterdam. Dimulai dengan belajar Al-Quran. Ada kelompok bapak-bapak, kelompok ibu-ibu dan kelompok remaja+anak-anak. Teman-teman yang kemampuannya relatif lebih baik dengan sukarela membimbing teman-teman lain yang masih tertatih-tatih dalam membaca ayat suci Al-Qur'an. Tanpa melihat umur semua jamaah tetap bersemangat untuk belajar mengaji. Tidak ada kata terlambat untuk belajar.
Tak lama setelah itu adzan Isya berkumandang. Semua bersiap-siap melaksanakan sholat Isya berjamaah. Setelah sholat Isya maka seperti biasa dilanjutkan dengan tadarus Al Qur'an. Malam ini dipilih 3 ayat terakhir dari Surat Al Baqarah yaitu ayat 284 sampai 286 yang terjemahannya sebagai berikut:
QS Al Baqarah 284-286
284. Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
285. Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta'at." (Mereka berdo'a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."
286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."
Setelah tadarus, Pak Hamdi seperti biasa memberikan ulasan dari ayat yang dibaca. Materi yang dibahas masih ada hubungannya dengan pengajian minggu lalu yang membahas tentang manfaat membaca Ayat Kursi. Ketiga ayat diatas bila rutin dibaca Insya Allah akan menghindarkan kita dari sihir dan niat jahat . Ayat-ayat diatas juga baik untuk dibaca ketika sakit fisik maupun ketika kita mempunyai masalah.
Beliau menjelaskan ayat 284, bahwa jika kita mempunyai niat yang ikhlas dalam membantu orang lain Insya Allah kita akan mendapatkan balasan dari Allah SWT, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Ketika kita membantu fakir miskin dengan ikhlas tanpa ada niat riya atau sombong di hadapan teman atau tetangga maka niat dan perbuatan kita itu dihitung sebagai pahala dan diberi ganjaran yang setimpal oleh Allah SWT. Dan urusan kita pun akan diberi kemudahan.
Sedangkan ayat 285 dan 286 menjelaskan bahwa iman semua manusia itu naik turun. Hal itu dipengaruhi lingkungan sekeliling kita. ada kalanya kita malas untuk sholat, malas untuk mengaji, lupa bersyukur atas nikmat-Nya. Maka kita seharusnya memohon ampunan dan perlindungan dari Allah SWT dan juga memohon agar kita dapat dengan ikhlas menerima semua cobaan yang diberi-Nya. Karena sesungguhnya Allah SWT memberikan cobaan ke hambanya sesuai dengan tingkat keimanan dan kadar kemampuannya masing-masing. Dalam ayat ini juga terkandung do'a yang baik sekali untuk diamalkan.
Pengajian diakhiri dengan makan malam bersama dengan menu-menu khas Indonesia buatan ibu-ibu HIMMI. Alhamdulillah.....
Referensi:
www.alquran-indonesia.com
Sunday, December 25, 2011
Indonesia?
Schiedam 25/12/11
Salah satu hal yang paling menarik saat kita jauh dari tanah air adalah kesempatan yang lebih luas untuk berinteraksi dengan orang asing. Kadang secara tidak langsung aku menjadi representasi orang Indonesia secara keseluruhan. Tugas yang berat? kadang-kadang iya dan mau ga mau aku berusaha menjadi orang Indonesia yang baik hehe...
Kembali ke beberapa tahun silam saat aku pertama kali menginjakkan kakiku di tanah seberang, bukan seberang laut tapi seberang selat Melaka dari kampungku alias Malaysia. Saat itu aku satu-satunya orang Indonesia di kantorku yang baru. Karena dikantorku mayoritas orang Melayu mereka lebih sreg kalo aku ngomong Melayu daripada English. Untungnya aku besar di Sumatera Utara yang notabene bahasanya 70% sama dengan bahasa Melayu di Malaysia. Tidak seperti image orang Malaysia di mata orang kita yang katanya suka menyiksa TKW, tidak bersahabat, sombong dll teman-teman sekantorku sangat welcome dan menerima kehadiranku. Teman-teman cewek banyak yang penasaran dengan sinetron Indonesia yang sangat nge-trend di Malaysia terutama sinetron Bawang Merah Bawang Putih, mereka penasaran dengan ending sinetron itu hahaha.....Beberapa teman yang lain secara jujur mengakui rasa keingintahuan mereka yang tinggi dengan aku yang mereka sebut "kelas menengah" hehe......karena sebelumnya mereka hanya pernah berinteraksi dengan TKI kita yang sebagian besar bekerja di sektor non formal seperti tukang, cleaning service atau pembantu rumah tangga. Malah mereka dengan bangganya bercerita soal kakek neneknya yang berasal dari Indonesia. Ada yang masih bisa ngomong Jawa, ada yang pernah pulang ke kampung halamannya di Jambi, bahkan saat aku bilang aku berasal dari Sumatera Barat dan asli Minangkabau ada beberapa teman Malaysia yang keturunan Minang langsung menyatakan kalo kita bersaudara. Jauh dari image jelek tentang orang Malaysia selama ini, mungkin karena pengaruh media massa.
Kejadian yang hampir sama waktu aku pertama kali menginjakkan kakiku di negeri kincir angin. Di Schipol aku dijemput agentku yang ternyata sangat menyukai segala sesuatu tentang Indonesia terutama makanan Indonesia. Bayangan orang Belanda yang angkuh dan sombong dan merasa dirinya lebih hebat dari orang Indonesia karena pernah lama menjajah Indonesia langsung hilang seketika. Beberapa orang Belanda yang aku kenal di kantorku dulu di Jakarta memang menunjukkan sikap yang kurang bersahabat dengan orang Indonesia. Bener-bener Londo ga tau diri padahal dia kerja dan tinggal di Indonesia.
Sekarang setelah 1.5 tahun di Belanda aku makin terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan soal Indonesia. Di kantorku yang lama di Papendrecht, temenku yang duduk persis di depanku berasal dari Nicaragua. Dan bukan hal yang aneh temen-temen dari Amerika banyak yang ga tau dimana Indonesia, menyedihkan....Satu hari saat ngobrol ngalor ngidul, aku tanya berapa orang penduduk Nicaragua dia jawab sekitar 5 juta. Waktu aku bilang penduduk Indonesia lebih kurang 250 juta orang dia ga percaya dan makin kaget waktu liat di google maps ternyata Indonesia itu jaaaauh lebih luas dari bayangannya, aku bilang if you're flying from West to East Indonesia it will take probably 7-8 hours nonstop, shock berat dia hahaha....
Minggu lalu ada teman baru di kantor, orang Portugal. Orangnya ramah, umur sktr 40 tahun tapi jangan bayangkan dia mirip Cristiano Ronaldo tapi menurutku dia lebih mirip Taufik Savalas, pendek dan kocak hehe....Dia tanya kapan aku balik ke Indonesia untuk merayakan Natal. Oh ya di Belanda hal yang biasa kantor-kantor sepi saat Natal karena hampir semua orang cuti 1-2 minggu bukan hanya karena merayakan Natal tapi juga karena bertepatan dengan libur sekolah (winter break) dan biasanya mereka berlibur ke luar negeri terutama ke negara yang berhawa lebih hangat dan lari sementara dari musim dingin di Belanda. Aku bilang aku ga balik dan aku ga merayakan Natal. Dia bingung trus dia tanya "Are you a moslem?", aku bilang iya eh.....dia tambah bingung dan balik nanya bukannya orang Indonesia itu Katolik semua. Aku bilang Kristen+Katolik itu mungkin sekitar 10% dari total penduduk Indonesia jadi sekitar 25 juta-an. Dia tambah bingung dan ga percaya karena penduduk Belanda cuma 16 juta orang dan penduduk Portugal cuma 11 juta orang. Dia langsung browsing dan kaget setengah mati dan tambah heboh waktu dia tau penduduk Indonesia sekitar 250 juta orang. Ternyata dia pikir Indonesia itu sama dengan Timor Leste woalaaaah......wkwkwkwk, pantesan bingung dia.
Salah satu hal yang paling menarik saat kita jauh dari tanah air adalah kesempatan yang lebih luas untuk berinteraksi dengan orang asing. Kadang secara tidak langsung aku menjadi representasi orang Indonesia secara keseluruhan. Tugas yang berat? kadang-kadang iya dan mau ga mau aku berusaha menjadi orang Indonesia yang baik hehe...
Kembali ke beberapa tahun silam saat aku pertama kali menginjakkan kakiku di tanah seberang, bukan seberang laut tapi seberang selat Melaka dari kampungku alias Malaysia. Saat itu aku satu-satunya orang Indonesia di kantorku yang baru. Karena dikantorku mayoritas orang Melayu mereka lebih sreg kalo aku ngomong Melayu daripada English. Untungnya aku besar di Sumatera Utara yang notabene bahasanya 70% sama dengan bahasa Melayu di Malaysia. Tidak seperti image orang Malaysia di mata orang kita yang katanya suka menyiksa TKW, tidak bersahabat, sombong dll teman-teman sekantorku sangat welcome dan menerima kehadiranku. Teman-teman cewek banyak yang penasaran dengan sinetron Indonesia yang sangat nge-trend di Malaysia terutama sinetron Bawang Merah Bawang Putih, mereka penasaran dengan ending sinetron itu hahaha.....Beberapa teman yang lain secara jujur mengakui rasa keingintahuan mereka yang tinggi dengan aku yang mereka sebut "kelas menengah" hehe......karena sebelumnya mereka hanya pernah berinteraksi dengan TKI kita yang sebagian besar bekerja di sektor non formal seperti tukang, cleaning service atau pembantu rumah tangga. Malah mereka dengan bangganya bercerita soal kakek neneknya yang berasal dari Indonesia. Ada yang masih bisa ngomong Jawa, ada yang pernah pulang ke kampung halamannya di Jambi, bahkan saat aku bilang aku berasal dari Sumatera Barat dan asli Minangkabau ada beberapa teman Malaysia yang keturunan Minang langsung menyatakan kalo kita bersaudara. Jauh dari image jelek tentang orang Malaysia selama ini, mungkin karena pengaruh media massa.
Kejadian yang hampir sama waktu aku pertama kali menginjakkan kakiku di negeri kincir angin. Di Schipol aku dijemput agentku yang ternyata sangat menyukai segala sesuatu tentang Indonesia terutama makanan Indonesia. Bayangan orang Belanda yang angkuh dan sombong dan merasa dirinya lebih hebat dari orang Indonesia karena pernah lama menjajah Indonesia langsung hilang seketika. Beberapa orang Belanda yang aku kenal di kantorku dulu di Jakarta memang menunjukkan sikap yang kurang bersahabat dengan orang Indonesia. Bener-bener Londo ga tau diri padahal dia kerja dan tinggal di Indonesia.
Sekarang setelah 1.5 tahun di Belanda aku makin terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan soal Indonesia. Di kantorku yang lama di Papendrecht, temenku yang duduk persis di depanku berasal dari Nicaragua. Dan bukan hal yang aneh temen-temen dari Amerika banyak yang ga tau dimana Indonesia, menyedihkan....Satu hari saat ngobrol ngalor ngidul, aku tanya berapa orang penduduk Nicaragua dia jawab sekitar 5 juta. Waktu aku bilang penduduk Indonesia lebih kurang 250 juta orang dia ga percaya dan makin kaget waktu liat di google maps ternyata Indonesia itu jaaaauh lebih luas dari bayangannya, aku bilang if you're flying from West to East Indonesia it will take probably 7-8 hours nonstop, shock berat dia hahaha....
Minggu lalu ada teman baru di kantor, orang Portugal. Orangnya ramah, umur sktr 40 tahun tapi jangan bayangkan dia mirip Cristiano Ronaldo tapi menurutku dia lebih mirip Taufik Savalas, pendek dan kocak hehe....Dia tanya kapan aku balik ke Indonesia untuk merayakan Natal. Oh ya di Belanda hal yang biasa kantor-kantor sepi saat Natal karena hampir semua orang cuti 1-2 minggu bukan hanya karena merayakan Natal tapi juga karena bertepatan dengan libur sekolah (winter break) dan biasanya mereka berlibur ke luar negeri terutama ke negara yang berhawa lebih hangat dan lari sementara dari musim dingin di Belanda. Aku bilang aku ga balik dan aku ga merayakan Natal. Dia bingung trus dia tanya "Are you a moslem?", aku bilang iya eh.....dia tambah bingung dan balik nanya bukannya orang Indonesia itu Katolik semua. Aku bilang Kristen+Katolik itu mungkin sekitar 10% dari total penduduk Indonesia jadi sekitar 25 juta-an. Dia tambah bingung dan ga percaya karena penduduk Belanda cuma 16 juta orang dan penduduk Portugal cuma 11 juta orang. Dia langsung browsing dan kaget setengah mati dan tambah heboh waktu dia tau penduduk Indonesia sekitar 250 juta orang. Ternyata dia pikir Indonesia itu sama dengan Timor Leste woalaaaah......wkwkwkwk, pantesan bingung dia.
Friday, September 16, 2011
Latah
Schiedam, 16 September 2011
Salah satu yang mewabah di masyarakat kita adalah budaya latah. Secara umum budaya latah ini sudah ada dari beberapa generasi terdahulu. Kalo menurut Om Wikipedia definisi latah itu adalah:
Suatu keadaan fisik di mana penderita secara spontanitas mengeluarkan respon (berupa ucapan kata-kata atau kalimat dan sering disertai gerakan tubuh) terhadap suara atau gerakan yang sifatnya mengagetkan penderita. Sejauh ini, latah baru ditemukan di budaya dan orang Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia. Oleh sebab itu, latah dianggap sebagai suatu sindrom khusus kebudayaan.
Selain mengulang kata-kata orang lain sebagian penderita latah ini juga sering mengatakan kata-kata yang termasuk tabu diucapkan dalam perbincangan sehari-hari dan juga kata-kata yang berkonotasi porno. Latah sebagai suatu penyakit sebenarnya bisa dihilangkan bila si pelaku benar-benar punya keinginan dan tekad yang kuat serta didukung lingkungan sekitarnya juga mendukung si pelaku. Tapi kenyataan yang terjadi latah ini bukan dianggap sebagai penyakit malah menjadi sebagai suatu hiburan. Malah ada beberapa artis menjadi terkenal karena latah.
Dalam artian lebih luas, latah ini bisa diartikan sebagai perilaku meniru baik itu perilaku, kebiasaan, ucapan dll. Hal-hal yang ditiru dan kemudian menjadi trend di masyarakat biasanya berasal dari kalangan pejabat, tokoh masyarakat, artis idola dll. Beberapa minggu terakhir sedang nge-trend kata-kata dari artis Syahrini. Ucapan “Alhamdulillah yah….”, “ Sesuatu banget” menjadi bahasa sehari-hari bukan hanya dalam perbincangan sehari-hari tapi juga di dunia maya di banyak milis selalu saja ada email yang mengutip ungkapan khas Syahrini itu. Trend lain menggunakan kata "secara" sebagai ganti kata "karena". Misalnya "Yaaa.....secara gw belum pernah kesana" harusnya kan "Yaaa....karena gw belum pernah kesana". Benar-benar latah dan mungkin bisa disebut sebagai (maaf) pemerkosaan bahasa Indonesia dan itu sangat sangat memuakkan. Ikut-ikutan latah biar dianggap gaul dan nggak kuno.
Hal ini ditunjang sajian sampah yang ditayangkan di televisi di tanah air mulai dari infotainment yang berisi skandal artis yang kawin cerai sampai liputan kriminal dan pastinya sinetron sampah yang ga jelas alur ceritanya dan ketika hal ini setiap hari disajikan maka masyarakat kita tanpa sadar menyerap dan meniru sebagian besar tayangan tadi.
Aku sering bermimpi dan berandai-andai suatu saat pemimpin dan pejabat di pemerintahan kita, tokoh-tokoh masyarakat, artis-artis didukung media massa sepakat untuk melakukan sesuatu yang aku namakan "Gerakan Latah Nasional Untuk Indonesia Yang Lebih Baik". Jadi ketika panutan masyarakat ini beramai-ramai melakukan sesuatu yang baik dan berguna diharapkan masyarakat kita yang sekarang sebagian besar sedang menderita penyakit latah yang amat sangat kronis bisa meniru perilaku, perkataan dan semua contoh yang baik itu dalam kesehariannya sehingga pelan tapi pasti diharapkan kondisi masyarakat kita bisa lebih baik. Untuk menghasilkan sesuatu yang besar sebaiknya dimulai dari sesuatu yang kecil tetapi berkesinambungan.
Dan saat itu kita bisa bilang :
"Alhamdulillah yah.....Indonesia udah lebih baik menjadi sesuatu banget". Alamaaaaak......udah kena virus Syahrini hehehe...
Tetap optimis untuk Indonesia Yang Lebih Baik……..
Salah satu yang mewabah di masyarakat kita adalah budaya latah. Secara umum budaya latah ini sudah ada dari beberapa generasi terdahulu. Kalo menurut Om Wikipedia definisi latah itu adalah:
Suatu keadaan fisik di mana penderita secara spontanitas mengeluarkan respon (berupa ucapan kata-kata atau kalimat dan sering disertai gerakan tubuh) terhadap suara atau gerakan yang sifatnya mengagetkan penderita. Sejauh ini, latah baru ditemukan di budaya dan orang Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia. Oleh sebab itu, latah dianggap sebagai suatu sindrom khusus kebudayaan.
Selain mengulang kata-kata orang lain sebagian penderita latah ini juga sering mengatakan kata-kata yang termasuk tabu diucapkan dalam perbincangan sehari-hari dan juga kata-kata yang berkonotasi porno. Latah sebagai suatu penyakit sebenarnya bisa dihilangkan bila si pelaku benar-benar punya keinginan dan tekad yang kuat serta didukung lingkungan sekitarnya juga mendukung si pelaku. Tapi kenyataan yang terjadi latah ini bukan dianggap sebagai penyakit malah menjadi sebagai suatu hiburan. Malah ada beberapa artis menjadi terkenal karena latah.
Dalam artian lebih luas, latah ini bisa diartikan sebagai perilaku meniru baik itu perilaku, kebiasaan, ucapan dll. Hal-hal yang ditiru dan kemudian menjadi trend di masyarakat biasanya berasal dari kalangan pejabat, tokoh masyarakat, artis idola dll. Beberapa minggu terakhir sedang nge-trend kata-kata dari artis Syahrini. Ucapan “Alhamdulillah yah….”, “ Sesuatu banget” menjadi bahasa sehari-hari bukan hanya dalam perbincangan sehari-hari tapi juga di dunia maya di banyak milis selalu saja ada email yang mengutip ungkapan khas Syahrini itu. Trend lain menggunakan kata "secara" sebagai ganti kata "karena". Misalnya "Yaaa.....secara gw belum pernah kesana" harusnya kan "Yaaa....karena gw belum pernah kesana". Benar-benar latah dan mungkin bisa disebut sebagai (maaf) pemerkosaan bahasa Indonesia dan itu sangat sangat memuakkan. Ikut-ikutan latah biar dianggap gaul dan nggak kuno.
Hal ini ditunjang sajian sampah yang ditayangkan di televisi di tanah air mulai dari infotainment yang berisi skandal artis yang kawin cerai sampai liputan kriminal dan pastinya sinetron sampah yang ga jelas alur ceritanya dan ketika hal ini setiap hari disajikan maka masyarakat kita tanpa sadar menyerap dan meniru sebagian besar tayangan tadi.
Aku sering bermimpi dan berandai-andai suatu saat pemimpin dan pejabat di pemerintahan kita, tokoh-tokoh masyarakat, artis-artis didukung media massa sepakat untuk melakukan sesuatu yang aku namakan "Gerakan Latah Nasional Untuk Indonesia Yang Lebih Baik". Jadi ketika panutan masyarakat ini beramai-ramai melakukan sesuatu yang baik dan berguna diharapkan masyarakat kita yang sekarang sebagian besar sedang menderita penyakit latah yang amat sangat kronis bisa meniru perilaku, perkataan dan semua contoh yang baik itu dalam kesehariannya sehingga pelan tapi pasti diharapkan kondisi masyarakat kita bisa lebih baik. Untuk menghasilkan sesuatu yang besar sebaiknya dimulai dari sesuatu yang kecil tetapi berkesinambungan.
Dan saat itu kita bisa bilang :
"Alhamdulillah yah.....Indonesia udah lebih baik menjadi sesuatu banget". Alamaaaaak......udah kena virus Syahrini hehehe...
Tetap optimis untuk Indonesia Yang Lebih Baik……..
Tuesday, September 6, 2011
Mati
Leiden, 6 September 2011
Aku ingat suatu hari sewaktu SMA dulu aku menghadiri pengajian tiba-tiba Pak Ustadz bertanya "Siapa yang siap mati sekarang?". Ga ada satupun dari kami berani angkat tangan. Ada yang bengong mungkin shock karena ditanya pertanyaan seperti itu, ada yang ragu-ragu menyatakan siap mati, malah ada yang pura-pura ga dengar pertanyaan Pak Ustadz tadi hehe.....
Sebuah pertanyaan yang sama aku tanyakan lagi siang ini ke diriku sendiri. Dan jawabannya tetap sama seperti beberapa tahun yang lalu, aku belum siap mati. Terlalu banyak cita-cita, impian dan keinginan aku yang belum tercapai. Apalagi aku selalu punya mimpi-mimpi baru, saat ini bukan hanya mimpi untuk diriku sendiri tapi mimpi-mimpi yang aku punya untuk keluargaku mimpi untuk anak-anakku. Aku fikir semakin lama aku hidup semakin tidak siap rasanya aku untuk mati. Apa aku terlalu cinta dunia? Aku rasa tidak, aku hanya berusaha menjadi orang baik, berusaha melaksanakan yang diperintahkan-Nya, selalu berusaha menjadi orang yang berguna buat orang-orang disekitarku. Persetan dengan orang-orang yang berprasangka buruk dan menilai aku berbeda, aku ga peduli.
Siang ini dan siang-siang sebelumnya aku sering mengamati dan menduga isi kepala dari teman-teman kantorku. Di Structural Department, aku merupakan karyawan termuda. Hampir sebagian besar dari rekan kerjaku sudah memasuki usia manula sudah berusia 60 tahunan. Perbincangan ringan sehari-hari berkisar dari cuaca hari ini, kelahiran cucu, kematian istri, sakit punggung dll. Walaupun sudah memasuki ujia senja tapi mereka masih semangat bekerja mereka masih sibuk dengan urusan dunia. Sangat berbeda dengan orang-orang tua kita yang ketika memasuki usia senja justru sibuk dengan segala hal yang berbau religius, rajin ke mesjid, mengaji, sekaligus sibuk ngemong cucu. Apa mereka menganggap setelah mati semuanya selesai, ga ada yang namanya akhirat ga ada pertanggungjawaban atas semua tindakan kita di dunia. Semuanya terjebak paham hedonisme, kesenangan dunia diatas segala-galanya.
Minggu ini aku dapet berita tentang salah seorang teman lama yang duluan dipanggil Sang Pencipta. Sementara teman yang lain disini sudah lebih satu bulan dirawat intensif karena penyakit yang dideritanya. Teringat obrolan dengan teman lain yang pekerjaannya merawat orang-orang jompo dan orang-orang yang dari sisi medis divonis sudah tidak dapat disembuhkan, nyaris setiap hari melihat kematian. Beberapa hari terakhir media nasional dihebohkan dengan berita seorang artis yang istrinya menemui ajalnya akibat kecelakaan lalu lintas. Benar yang dikatakan Imam Al Ghazali, yang paling dekat dengan kita adalah kematian.
Semua itu membuat aku kembali bertanya pada diriku
"Sudahkah aku siap untuk mati?"
Aku ingat suatu hari sewaktu SMA dulu aku menghadiri pengajian tiba-tiba Pak Ustadz bertanya "Siapa yang siap mati sekarang?". Ga ada satupun dari kami berani angkat tangan. Ada yang bengong mungkin shock karena ditanya pertanyaan seperti itu, ada yang ragu-ragu menyatakan siap mati, malah ada yang pura-pura ga dengar pertanyaan Pak Ustadz tadi hehe.....
Sebuah pertanyaan yang sama aku tanyakan lagi siang ini ke diriku sendiri. Dan jawabannya tetap sama seperti beberapa tahun yang lalu, aku belum siap mati. Terlalu banyak cita-cita, impian dan keinginan aku yang belum tercapai. Apalagi aku selalu punya mimpi-mimpi baru, saat ini bukan hanya mimpi untuk diriku sendiri tapi mimpi-mimpi yang aku punya untuk keluargaku mimpi untuk anak-anakku. Aku fikir semakin lama aku hidup semakin tidak siap rasanya aku untuk mati. Apa aku terlalu cinta dunia? Aku rasa tidak, aku hanya berusaha menjadi orang baik, berusaha melaksanakan yang diperintahkan-Nya, selalu berusaha menjadi orang yang berguna buat orang-orang disekitarku. Persetan dengan orang-orang yang berprasangka buruk dan menilai aku berbeda, aku ga peduli.
Siang ini dan siang-siang sebelumnya aku sering mengamati dan menduga isi kepala dari teman-teman kantorku. Di Structural Department, aku merupakan karyawan termuda. Hampir sebagian besar dari rekan kerjaku sudah memasuki usia manula sudah berusia 60 tahunan. Perbincangan ringan sehari-hari berkisar dari cuaca hari ini, kelahiran cucu, kematian istri, sakit punggung dll. Walaupun sudah memasuki ujia senja tapi mereka masih semangat bekerja mereka masih sibuk dengan urusan dunia. Sangat berbeda dengan orang-orang tua kita yang ketika memasuki usia senja justru sibuk dengan segala hal yang berbau religius, rajin ke mesjid, mengaji, sekaligus sibuk ngemong cucu. Apa mereka menganggap setelah mati semuanya selesai, ga ada yang namanya akhirat ga ada pertanggungjawaban atas semua tindakan kita di dunia. Semuanya terjebak paham hedonisme, kesenangan dunia diatas segala-galanya.
Minggu ini aku dapet berita tentang salah seorang teman lama yang duluan dipanggil Sang Pencipta. Sementara teman yang lain disini sudah lebih satu bulan dirawat intensif karena penyakit yang dideritanya. Teringat obrolan dengan teman lain yang pekerjaannya merawat orang-orang jompo dan orang-orang yang dari sisi medis divonis sudah tidak dapat disembuhkan, nyaris setiap hari melihat kematian. Beberapa hari terakhir media nasional dihebohkan dengan berita seorang artis yang istrinya menemui ajalnya akibat kecelakaan lalu lintas. Benar yang dikatakan Imam Al Ghazali, yang paling dekat dengan kita adalah kematian.
Semua itu membuat aku kembali bertanya pada diriku
"Sudahkah aku siap untuk mati?"
Sunday, September 4, 2011
Ramadhan dan Syawal
Schiedam, 4 September 2011
Ada satu pertanyaan yang menarik soal bulan Ramadhan.
"Apakah bulan Ramadhan itu bulan ujian atau justru bulan pendidikan?"
Ada yang berpendapat Ramadhan itu bulan ujian. Kenapa? jawabannya karena 11 bulan sebelumnya kita melakukan latihan dan ketika memasuki bulan Ramadhan kita diuji dengan segala macam ujian seperti mengekang hawa nafsu, menjaga semua ucapan dan tingkah laku kita selain harus menahan lapar dan dahaga di siang hari. Tapi ada juga yang mengatakan justru bulan Ramadhan itu merupakan kawah candradimuka buat kita melakukan latihan sebulan penuh sebelum kita kemudian diuji selama 11 bulan berikutnya.
Bingung? hehe....jangan bingung, aku sendiri tidak terlalu mempersoalkan hal diatas. Hal yang lebih penting berfikir dan berusaha agar kadar keimanan kita besok dan hari-hari berikutnya bisa lebih baik dari hari ini. Jadi ga ada istilah kapan ujiannya. Kalo menurutku ketika ruh ditiupkan kedalam jasad kita ketika kita masih di rahim ibu kita maka ketika itu pula ujian buat hidup kita dimulai dan ujian itu baru akan berakhir ketika ruh kita dipisahkan dari jasad kita. Hidup ini bisa kita ibaratkan seperti jaman kita sekolah dulu. Ada saat belajar dan ujian.
Alam berikutnya yaitu alam kubur. Setelah kita lelah dengan ujian-ujian di dunia maka kita diminta pertanggungjawaban alias dinilai nih hasil ujian kita dulu. Jangan lupa seperti di sekolah ketika waktu ujian sudah lewat, kita dilarang untuk mengulang jawaban yang sudah kita berikan. Ketika ajal sudah menjelang kita juga tidak mungkin mengulang amalan-amalan kita di dunia. Jadi mumpung kita masih diberi waktu untuk ujian karena masih di dunia, kerjain deh amalan-amalan yang diperintahkan Allah SWT.
Tahap berikutnya alam barzah. Dari alam kubur kita dibangkitkan kembali dan semua manusia dikumpulkan. Seperti pengumuman hasil ujian nih, kalo kita mengerjakan semua soal ujian di dunia dengan benar kita Insya Allah diberi hadiah Surga. Tetapi buat yang di dunianya bandel, suka bolos sholat, ga pernah belajar agama dan menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang ga berguna siap-siap deh masuk ke ruang BP (Bimbingan Penyuluhan) alias disiksa dulu di Neraka.
Jadi semuanya tergantung kita, mo bener ga belajarnya. Bulan Syawal bukan berarti saatnya berleha-leha dan trus lupa kalo sekarang masih saat ujian. Dan jangan pernah lupa kalo waktu ujian masing-masing manusia berbeda-beda. Tidak satu orangpun yang tau kapan waktu ujiannya habis, kapan ajalnya datang.
Jadi waspadalah....waspadalah......
Happy Ied Mobarak 1432 H....
Ada satu pertanyaan yang menarik soal bulan Ramadhan.
"Apakah bulan Ramadhan itu bulan ujian atau justru bulan pendidikan?"
Ada yang berpendapat Ramadhan itu bulan ujian. Kenapa? jawabannya karena 11 bulan sebelumnya kita melakukan latihan dan ketika memasuki bulan Ramadhan kita diuji dengan segala macam ujian seperti mengekang hawa nafsu, menjaga semua ucapan dan tingkah laku kita selain harus menahan lapar dan dahaga di siang hari. Tapi ada juga yang mengatakan justru bulan Ramadhan itu merupakan kawah candradimuka buat kita melakukan latihan sebulan penuh sebelum kita kemudian diuji selama 11 bulan berikutnya.
Bingung? hehe....jangan bingung, aku sendiri tidak terlalu mempersoalkan hal diatas. Hal yang lebih penting berfikir dan berusaha agar kadar keimanan kita besok dan hari-hari berikutnya bisa lebih baik dari hari ini. Jadi ga ada istilah kapan ujiannya. Kalo menurutku ketika ruh ditiupkan kedalam jasad kita ketika kita masih di rahim ibu kita maka ketika itu pula ujian buat hidup kita dimulai dan ujian itu baru akan berakhir ketika ruh kita dipisahkan dari jasad kita. Hidup ini bisa kita ibaratkan seperti jaman kita sekolah dulu. Ada saat belajar dan ujian.
Alam berikutnya yaitu alam kubur. Setelah kita lelah dengan ujian-ujian di dunia maka kita diminta pertanggungjawaban alias dinilai nih hasil ujian kita dulu. Jangan lupa seperti di sekolah ketika waktu ujian sudah lewat, kita dilarang untuk mengulang jawaban yang sudah kita berikan. Ketika ajal sudah menjelang kita juga tidak mungkin mengulang amalan-amalan kita di dunia. Jadi mumpung kita masih diberi waktu untuk ujian karena masih di dunia, kerjain deh amalan-amalan yang diperintahkan Allah SWT.
Tahap berikutnya alam barzah. Dari alam kubur kita dibangkitkan kembali dan semua manusia dikumpulkan. Seperti pengumuman hasil ujian nih, kalo kita mengerjakan semua soal ujian di dunia dengan benar kita Insya Allah diberi hadiah Surga. Tetapi buat yang di dunianya bandel, suka bolos sholat, ga pernah belajar agama dan menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang ga berguna siap-siap deh masuk ke ruang BP (Bimbingan Penyuluhan) alias disiksa dulu di Neraka.
Jadi semuanya tergantung kita, mo bener ga belajarnya. Bulan Syawal bukan berarti saatnya berleha-leha dan trus lupa kalo sekarang masih saat ujian. Dan jangan pernah lupa kalo waktu ujian masing-masing manusia berbeda-beda. Tidak satu orangpun yang tau kapan waktu ujiannya habis, kapan ajalnya datang.
Jadi waspadalah....waspadalah......
Happy Ied Mobarak 1432 H....
Saturday, September 3, 2011
Merayakan Idul Fitri di Negeri Kincir Angin
Schiedam, Agustus 2011
Di tanah air ketika Idul Fitri menjelang selalu identik dengan Mudik atau Pulang Kampung. Semua orang berbondong-bondong balik ke kampung halaman masing-masing untuk merayakan Hari Kemenangan setelah genap sebulan melaksanakan puasa Ramadhan. Begitu bersemangatnya untuk mudik terkadang kita tidak menghiraukan kesulitan yang dihadapi ketika akan mudik dari mulai antri berjam-jam hanya untuk mendapatkan selembar tiket, perjalanan yang melelahkan ketika mudik maupun ketika akan balik dari kampung halaman ke tempat kita mengais rejeki. Semuanya terbayar lunas saat bertemu dengan orangtua, sanak saudara dan handai tolan. Ritual mudik inipun menjadi semacam keharusan setiap tahunnya.
Hal ini sedikit berbeda dengan masyarakat Indonesia di Negeri Kincir Angin, Belanda. Masyarakat Indonesia di Belanda biasanya memanfaatkan liburan sekolah terutama saat liburan musim panas untuk balik ke kampung halaman di Indonesia. Tahun ini karena sekolah sudah dimulai sejak sebelum Lebaran menyebabkan sebagian besar dari masyarakat Indonesia merayakan Idul Fitri di Belanda. Idul Fitri bukan merupakan hari libur nasional di Belanda sehingga biasanya kaum muslimin yang bekerja harus mengambil cuti 1 atau 2 hari untuk merayakan hari besar umat Islam ini sedangkan untuk kalangan pelajar dan mahasiswa tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti biasanya. Beberapa sekolah dasar negeri dengan kurikulum Islam (Islamisch Basisschool) mengambil kebijaksanaan khusus untuk meliburkan siswanya selama 3 hari selama perayaan Idul Fitri tahun ini. Aku sendiri cuti selama 2 hari.
Sesuai keputusan ulama di Eropa maka 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011. Sehingga umat muslim di Belanda merayakan Idul Fitri sehari lebih dulu dari kaum muslimin di tanah air. Selasa pagi itu di sepanjang jalan banyak terlihat kaum muslimin yang didominasi etnis Turki dan Maroko berduyun-duyun berangkat ke mesjid. Aku dan keluargaku melaksanakan sholat Ied di sebuah sekolah Islam Ibn Ghaldun di Rotterdam kira-kira 10 menit perjalanan dari Schiedam. Sholat Ied dimulai jam10 pagi. Mayoritas jamaah di Ibn Ghaldun adalah keluarga dan mahasiswa Indonesia. Sebagian yang lain orang Indonesia yang menikah dengan bangsa lain. Mereka bukan hanya berdomisili di Rotterdam tetapi ada juga yang datang dari kota lain. Selesai sholat Ied semua jamaah dijamu dengan hidangan istimewa lebaran.
Merayakan hari kemenangan ini, KBRI Den Haag selesai sholat Ied di Mesjid Al-Hikmah dilanjutkan dengan Open House di kediaman Duta Besar Indonesia di Wisma Duta. Acara ini dibuka untuk umum. Selain untuk menikmati jamuan khas tanah air, acara inipun kadang kala digunakan juga untuk ajang bersilaturahmi dengan sesama teman setanah air. Beberapa teman juga mengadakan Open House di rumah masing-masing dengan mengundang teman dan tetangga untuk sama-sama berkumpul dan merayakan hari kemenangan tentu saja dengan menu khas lebaran seperti opor ayam, rendang, sambel goreng ati dll. Mayoritas masyarakat Indonesia di Belanda berdomisili di area Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, Utrecht dan Nijmegen selain tentunya juga di Groningen di bagian utara dan Eindhoven di selatan Belanda. Perjalanan kami sekeluarga pun dimulai mulai dari pagi selesai sholat Ied di Rotterdam, bersantap siang di Schiedam, berkumpul dengan teman-teman lain masih di area Schiedam dan diakhiri dengan bersantap malam di Bleiswijk. Alhamdulillah bisa berkumpul dengan teman-teman seiman dan setanah air. Lumayan mengobati kerinduan akan suasana lebaran di tanah air. Tradisi Open House ini tidak hanya pada Lebaran pertama tetapi masih ada sampai weekend beberapa hari setelah Lebaran.
Selamat Idul Fitri 1432 H
Taqabbalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa shiyamakum.
Di tanah air ketika Idul Fitri menjelang selalu identik dengan Mudik atau Pulang Kampung. Semua orang berbondong-bondong balik ke kampung halaman masing-masing untuk merayakan Hari Kemenangan setelah genap sebulan melaksanakan puasa Ramadhan. Begitu bersemangatnya untuk mudik terkadang kita tidak menghiraukan kesulitan yang dihadapi ketika akan mudik dari mulai antri berjam-jam hanya untuk mendapatkan selembar tiket, perjalanan yang melelahkan ketika mudik maupun ketika akan balik dari kampung halaman ke tempat kita mengais rejeki. Semuanya terbayar lunas saat bertemu dengan orangtua, sanak saudara dan handai tolan. Ritual mudik inipun menjadi semacam keharusan setiap tahunnya.
Hal ini sedikit berbeda dengan masyarakat Indonesia di Negeri Kincir Angin, Belanda. Masyarakat Indonesia di Belanda biasanya memanfaatkan liburan sekolah terutama saat liburan musim panas untuk balik ke kampung halaman di Indonesia. Tahun ini karena sekolah sudah dimulai sejak sebelum Lebaran menyebabkan sebagian besar dari masyarakat Indonesia merayakan Idul Fitri di Belanda. Idul Fitri bukan merupakan hari libur nasional di Belanda sehingga biasanya kaum muslimin yang bekerja harus mengambil cuti 1 atau 2 hari untuk merayakan hari besar umat Islam ini sedangkan untuk kalangan pelajar dan mahasiswa tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti biasanya. Beberapa sekolah dasar negeri dengan kurikulum Islam (Islamisch Basisschool) mengambil kebijaksanaan khusus untuk meliburkan siswanya selama 3 hari selama perayaan Idul Fitri tahun ini. Aku sendiri cuti selama 2 hari.
Sesuai keputusan ulama di Eropa maka 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011. Sehingga umat muslim di Belanda merayakan Idul Fitri sehari lebih dulu dari kaum muslimin di tanah air. Selasa pagi itu di sepanjang jalan banyak terlihat kaum muslimin yang didominasi etnis Turki dan Maroko berduyun-duyun berangkat ke mesjid. Aku dan keluargaku melaksanakan sholat Ied di sebuah sekolah Islam Ibn Ghaldun di Rotterdam kira-kira 10 menit perjalanan dari Schiedam. Sholat Ied dimulai jam10 pagi. Mayoritas jamaah di Ibn Ghaldun adalah keluarga dan mahasiswa Indonesia. Sebagian yang lain orang Indonesia yang menikah dengan bangsa lain. Mereka bukan hanya berdomisili di Rotterdam tetapi ada juga yang datang dari kota lain. Selesai sholat Ied semua jamaah dijamu dengan hidangan istimewa lebaran.
Merayakan hari kemenangan ini, KBRI Den Haag selesai sholat Ied di Mesjid Al-Hikmah dilanjutkan dengan Open House di kediaman Duta Besar Indonesia di Wisma Duta. Acara ini dibuka untuk umum. Selain untuk menikmati jamuan khas tanah air, acara inipun kadang kala digunakan juga untuk ajang bersilaturahmi dengan sesama teman setanah air. Beberapa teman juga mengadakan Open House di rumah masing-masing dengan mengundang teman dan tetangga untuk sama-sama berkumpul dan merayakan hari kemenangan tentu saja dengan menu khas lebaran seperti opor ayam, rendang, sambel goreng ati dll. Mayoritas masyarakat Indonesia di Belanda berdomisili di area Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, Utrecht dan Nijmegen selain tentunya juga di Groningen di bagian utara dan Eindhoven di selatan Belanda. Perjalanan kami sekeluarga pun dimulai mulai dari pagi selesai sholat Ied di Rotterdam, bersantap siang di Schiedam, berkumpul dengan teman-teman lain masih di area Schiedam dan diakhiri dengan bersantap malam di Bleiswijk. Alhamdulillah bisa berkumpul dengan teman-teman seiman dan setanah air. Lumayan mengobati kerinduan akan suasana lebaran di tanah air. Tradisi Open House ini tidak hanya pada Lebaran pertama tetapi masih ada sampai weekend beberapa hari setelah Lebaran.
Selamat Idul Fitri 1432 H
Taqabbalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa shiyamakum.
Subscribe to:
Posts (Atom)