Friday, September 16, 2011

Latah

Schiedam, 16 September 2011

Salah satu yang mewabah di masyarakat kita adalah budaya latah. Secara umum budaya latah ini sudah ada dari beberapa generasi terdahulu. Kalo menurut Om Wikipedia definisi latah itu adalah:
Suatu keadaan fisik di mana penderita secara spontanitas mengeluarkan respon (berupa ucapan kata-kata atau kalimat dan sering disertai gerakan tubuh) terhadap suara atau gerakan yang sifatnya mengagetkan penderita. Sejauh ini, latah baru ditemukan di budaya dan orang Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia. Oleh sebab itu, latah dianggap sebagai suatu sindrom khusus kebudayaan.

Selain mengulang kata-kata orang lain sebagian penderita latah ini juga sering mengatakan kata-kata yang termasuk tabu diucapkan dalam perbincangan sehari-hari dan juga kata-kata yang berkonotasi porno. Latah sebagai suatu penyakit sebenarnya bisa dihilangkan bila si pelaku benar-benar punya keinginan dan tekad yang kuat serta didukung lingkungan sekitarnya juga mendukung si pelaku. Tapi kenyataan yang terjadi latah ini bukan dianggap sebagai penyakit malah menjadi sebagai suatu hiburan. Malah ada beberapa artis menjadi terkenal karena latah.

Dalam artian lebih luas, latah ini bisa diartikan sebagai perilaku meniru baik itu perilaku, kebiasaan, ucapan dll. Hal-hal yang ditiru dan kemudian menjadi trend di masyarakat biasanya berasal dari kalangan pejabat, tokoh masyarakat, artis idola dll. Beberapa minggu terakhir sedang nge-trend kata-kata dari artis Syahrini. Ucapan “Alhamdulillah yah….”, “ Sesuatu banget” menjadi bahasa sehari-hari bukan hanya dalam perbincangan sehari-hari tapi juga di dunia maya di banyak milis selalu saja ada email yang mengutip ungkapan khas Syahrini itu. Trend lain menggunakan kata "secara" sebagai ganti kata "karena". Misalnya "Yaaa.....secara gw belum pernah kesana" harusnya kan "Yaaa....karena gw belum pernah kesana". Benar-benar latah dan mungkin bisa disebut sebagai (maaf) pemerkosaan bahasa Indonesia dan itu sangat sangat memuakkan. Ikut-ikutan latah biar dianggap gaul dan nggak kuno.

Hal ini ditunjang sajian sampah yang ditayangkan di televisi di tanah air mulai dari infotainment yang berisi skandal artis yang kawin cerai sampai liputan kriminal dan pastinya sinetron sampah yang ga jelas alur ceritanya dan ketika hal ini setiap hari disajikan maka masyarakat kita tanpa sadar menyerap dan meniru sebagian besar tayangan tadi.

Aku sering bermimpi dan berandai-andai suatu saat pemimpin dan pejabat di pemerintahan kita, tokoh-tokoh masyarakat, artis-artis didukung media massa sepakat untuk melakukan sesuatu yang aku namakan "Gerakan Latah Nasional Untuk Indonesia Yang Lebih Baik". Jadi ketika panutan masyarakat ini beramai-ramai melakukan sesuatu yang baik dan berguna diharapkan masyarakat kita yang sekarang sebagian besar sedang menderita penyakit latah yang amat sangat kronis bisa meniru perilaku, perkataan dan semua contoh yang baik itu dalam kesehariannya sehingga pelan tapi pasti diharapkan kondisi masyarakat kita bisa lebih baik. Untuk menghasilkan sesuatu yang besar sebaiknya dimulai dari sesuatu yang kecil tetapi berkesinambungan.

Dan saat itu kita bisa bilang :
"Alhamdulillah yah.....Indonesia udah lebih baik menjadi sesuatu banget". Alamaaaaak......udah kena virus Syahrini hehehe...
Tetap optimis untuk Indonesia Yang Lebih Baik……..

Tuesday, September 6, 2011

Mati

Leiden, 6 September 2011

Aku ingat suatu hari sewaktu SMA dulu aku menghadiri pengajian tiba-tiba Pak Ustadz bertanya "Siapa yang siap mati sekarang?". Ga ada satupun dari kami berani angkat tangan. Ada yang bengong mungkin shock karena ditanya pertanyaan seperti itu, ada yang ragu-ragu menyatakan siap mati, malah ada yang pura-pura ga dengar pertanyaan Pak Ustadz tadi hehe.....

Sebuah pertanyaan yang sama aku tanyakan lagi siang ini ke diriku sendiri. Dan jawabannya tetap sama seperti beberapa tahun yang lalu, aku belum siap mati. Terlalu banyak cita-cita, impian dan keinginan aku yang belum tercapai. Apalagi aku selalu punya mimpi-mimpi baru, saat ini bukan hanya mimpi untuk diriku sendiri tapi mimpi-mimpi yang aku punya untuk keluargaku mimpi untuk anak-anakku. Aku fikir semakin lama aku hidup semakin tidak siap rasanya aku untuk mati. Apa aku terlalu cinta dunia? Aku rasa tidak, aku hanya berusaha menjadi orang baik, berusaha melaksanakan yang diperintahkan-Nya, selalu berusaha menjadi orang yang berguna buat orang-orang disekitarku. Persetan dengan orang-orang yang berprasangka buruk dan menilai aku berbeda, aku ga peduli.

Siang ini dan siang-siang sebelumnya aku sering mengamati dan menduga isi kepala dari teman-teman kantorku. Di Structural Department, aku merupakan karyawan termuda. Hampir sebagian besar dari rekan kerjaku sudah memasuki usia manula sudah berusia 60 tahunan. Perbincangan ringan sehari-hari berkisar dari cuaca hari ini, kelahiran cucu, kematian istri, sakit punggung dll. Walaupun sudah memasuki ujia senja tapi mereka masih semangat bekerja mereka masih sibuk dengan urusan dunia. Sangat berbeda dengan orang-orang tua kita yang ketika memasuki usia senja justru sibuk dengan segala hal yang berbau religius, rajin ke mesjid, mengaji, sekaligus sibuk ngemong cucu. Apa mereka menganggap setelah mati semuanya selesai, ga ada yang namanya akhirat ga ada pertanggungjawaban atas semua tindakan kita di dunia. Semuanya terjebak paham hedonisme, kesenangan dunia diatas segala-galanya.

Minggu ini aku dapet berita tentang salah seorang teman lama yang duluan dipanggil Sang Pencipta. Sementara teman yang lain disini sudah lebih satu bulan dirawat intensif karena penyakit yang dideritanya. Teringat obrolan dengan teman lain yang pekerjaannya merawat orang-orang jompo dan orang-orang yang dari sisi medis divonis sudah tidak dapat disembuhkan, nyaris setiap hari melihat kematian. Beberapa hari terakhir media nasional dihebohkan dengan berita seorang artis yang istrinya menemui ajalnya akibat kecelakaan lalu lintas. Benar yang dikatakan Imam Al Ghazali, yang paling dekat dengan kita adalah kematian.

Semua itu membuat aku kembali bertanya pada diriku
"Sudahkah aku siap untuk mati?"

Sunday, September 4, 2011

Ramadhan dan Syawal

Schiedam, 4 September 2011

Ada satu pertanyaan yang menarik soal bulan Ramadhan.
"Apakah bulan Ramadhan itu bulan ujian atau justru bulan pendidikan?"

Ada yang berpendapat Ramadhan itu bulan ujian. Kenapa? jawabannya karena 11 bulan sebelumnya kita melakukan latihan dan ketika memasuki bulan Ramadhan kita diuji dengan segala macam ujian seperti mengekang hawa nafsu, menjaga semua ucapan dan tingkah laku kita selain harus menahan lapar dan dahaga di siang hari. Tapi ada juga yang mengatakan justru bulan Ramadhan itu merupakan kawah candradimuka buat kita melakukan latihan sebulan penuh sebelum kita kemudian diuji selama 11 bulan berikutnya.

Bingung? hehe....jangan bingung, aku sendiri tidak terlalu mempersoalkan hal diatas. Hal yang lebih penting berfikir dan berusaha agar kadar keimanan kita besok dan hari-hari berikutnya bisa lebih baik dari hari ini. Jadi ga ada istilah kapan ujiannya. Kalo menurutku ketika ruh ditiupkan kedalam jasad kita ketika kita masih di rahim ibu kita maka ketika itu pula ujian buat hidup kita dimulai dan ujian itu baru akan berakhir ketika ruh kita dipisahkan dari jasad kita. Hidup ini bisa kita ibaratkan seperti jaman kita sekolah dulu. Ada saat belajar dan ujian.

Alam berikutnya yaitu alam kubur. Setelah kita lelah dengan ujian-ujian di dunia maka kita diminta pertanggungjawaban alias dinilai nih hasil ujian kita dulu. Jangan lupa seperti di sekolah ketika waktu ujian sudah lewat, kita dilarang untuk mengulang jawaban yang sudah kita berikan. Ketika ajal sudah menjelang kita juga tidak mungkin mengulang amalan-amalan kita di dunia. Jadi mumpung kita masih diberi waktu untuk ujian karena masih di dunia, kerjain deh amalan-amalan yang diperintahkan Allah SWT.

Tahap berikutnya alam barzah. Dari alam kubur kita dibangkitkan kembali dan semua manusia dikumpulkan. Seperti pengumuman hasil ujian nih, kalo kita mengerjakan semua soal ujian di dunia dengan benar kita Insya Allah diberi hadiah Surga. Tetapi buat yang di dunianya bandel, suka bolos sholat, ga pernah belajar agama dan menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang ga berguna siap-siap deh masuk ke ruang BP (Bimbingan Penyuluhan) alias disiksa dulu di Neraka.

Jadi semuanya tergantung kita, mo bener ga belajarnya. Bulan Syawal bukan berarti saatnya berleha-leha dan trus lupa kalo sekarang masih saat ujian. Dan jangan pernah lupa kalo waktu ujian masing-masing manusia berbeda-beda. Tidak satu orangpun yang tau kapan waktu ujiannya habis, kapan ajalnya datang.
Jadi waspadalah....waspadalah......

Happy Ied Mobarak 1432 H....

Saturday, September 3, 2011

Merayakan Idul Fitri di Negeri Kincir Angin

Schiedam, Agustus 2011

Di tanah air ketika Idul Fitri menjelang selalu identik dengan Mudik atau Pulang Kampung. Semua orang berbondong-bondong balik ke kampung halaman masing-masing untuk merayakan Hari Kemenangan setelah genap sebulan melaksanakan puasa Ramadhan. Begitu bersemangatnya untuk mudik terkadang kita tidak menghiraukan kesulitan yang dihadapi ketika akan mudik dari mulai antri berjam-jam hanya untuk mendapatkan selembar tiket, perjalanan yang melelahkan ketika mudik maupun ketika akan balik dari kampung halaman ke tempat kita mengais rejeki. Semuanya terbayar lunas saat bertemu dengan orangtua, sanak saudara dan handai tolan. Ritual mudik inipun menjadi semacam keharusan setiap tahunnya.

Hal ini sedikit berbeda dengan masyarakat Indonesia di Negeri Kincir Angin, Belanda. Masyarakat Indonesia di Belanda biasanya memanfaatkan liburan sekolah terutama saat liburan musim panas untuk balik ke kampung halaman di Indonesia. Tahun ini karena sekolah sudah dimulai sejak sebelum Lebaran menyebabkan sebagian besar dari masyarakat Indonesia merayakan Idul Fitri di Belanda. Idul Fitri bukan merupakan hari libur nasional di Belanda sehingga biasanya kaum muslimin yang bekerja harus mengambil cuti 1 atau 2 hari untuk merayakan hari besar umat Islam ini sedangkan untuk kalangan pelajar dan mahasiswa tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti biasanya. Beberapa sekolah dasar negeri dengan kurikulum Islam (Islamisch Basisschool) mengambil kebijaksanaan khusus untuk meliburkan siswanya selama 3 hari selama perayaan Idul Fitri tahun ini. Aku sendiri cuti selama 2 hari.

Sesuai keputusan ulama di Eropa maka 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011. Sehingga umat muslim di Belanda merayakan Idul Fitri sehari lebih dulu dari kaum muslimin di tanah air. Selasa pagi itu di sepanjang jalan banyak terlihat kaum muslimin yang didominasi etnis Turki dan Maroko berduyun-duyun berangkat ke mesjid. Aku dan keluargaku melaksanakan sholat Ied di sebuah sekolah Islam Ibn Ghaldun di Rotterdam kira-kira 10 menit perjalanan dari Schiedam. Sholat Ied dimulai jam10 pagi. Mayoritas jamaah di Ibn Ghaldun adalah keluarga dan mahasiswa Indonesia. Sebagian yang lain orang Indonesia yang menikah dengan bangsa lain. Mereka bukan hanya berdomisili di Rotterdam tetapi ada juga yang datang dari kota lain. Selesai sholat Ied semua jamaah dijamu dengan hidangan istimewa lebaran.

Merayakan hari kemenangan ini, KBRI Den Haag selesai sholat Ied di Mesjid Al-Hikmah dilanjutkan dengan Open House di kediaman Duta Besar Indonesia di Wisma Duta. Acara ini dibuka untuk umum. Selain untuk menikmati jamuan khas tanah air, acara inipun kadang kala digunakan juga untuk ajang bersilaturahmi dengan sesama teman setanah air. Beberapa teman juga mengadakan Open House di rumah masing-masing dengan mengundang teman dan tetangga untuk sama-sama berkumpul dan merayakan hari kemenangan tentu saja dengan menu khas lebaran seperti opor ayam, rendang, sambel goreng ati dll. Mayoritas masyarakat Indonesia di Belanda berdomisili di area Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, Utrecht dan Nijmegen selain tentunya juga di Groningen di bagian utara dan Eindhoven di selatan Belanda. Perjalanan kami sekeluarga pun dimulai mulai dari pagi selesai sholat Ied di Rotterdam, bersantap siang di Schiedam, berkumpul dengan teman-teman lain masih di area Schiedam dan diakhiri dengan bersantap malam di Bleiswijk. Alhamdulillah bisa berkumpul dengan teman-teman seiman dan setanah air. Lumayan mengobati kerinduan akan suasana lebaran di tanah air. Tradisi Open House ini tidak hanya pada Lebaran pertama tetapi masih ada sampai weekend beberapa hari setelah Lebaran.

Selamat Idul Fitri 1432 H
Taqabbalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa shiyamakum.

Monday, August 29, 2011

Ramadhan di Negeri Kincir Angin

Schiedam, 29 Agustus 2011

Alhamdulillah....hari ini menginjak 29 hari bulan Ramadhan 1432 H. Tahun ini tahun kedua aku melaksanakan puasa Ramadhan di negeri Kincir Angin. Kalo tahun lalu aku lewatkan hanya dengan teman-teman mahasiswa di Rotterdam dan kemudian berlebaran di Bukittinggi tanah kelahiran istri tercinta, tahun ini sedikit berbeda karena dari mulai hari pertama Ramadhan dan Insya Allah sampai Idul Fitri aku lewatkan dengan istri dan anak-anakku dan tentu saja dengan teman-teman setanah air yang sama-sama merantau dan terpisah belasan ribu kilometer dari sanak saudara di tanah air.

Komunitas masyarakat Indonesia di Belanda selama bulan Ramadhan cukup aktif mengadakan kegiatan Ramadhan. Semua begitu bersemangat dan sukacita dalam menyambut datangnya bulan suci ini. Kantong-kantong masyarakat Indonesia sebagian besar berada di kota-kota seperti Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, Utrecht dan beberapa kota lainnya. Terdapat beberapa masjid Indonesia misalnya Masjid Al Hikmah Den Haag dan Masjid ISR di Rotterdam yang rutin melaksanakan qiyamul lail, buka puasa dan kegiatan lain selama bulan Ramadhan. Selain itu dengan populasi muslim yang cukup tinggi dan toleransi beragama yang juga cukup baik, jumlah mesjid di Belanda juga cukup banyak. Sebagian besar mesjid ini dibangun oleh masyarakat Belanda keturunan Turki dan Marocco. Mesjid Turki biasanya menggunakan bahasa Turki dalam penyampaian khutbah Jum'at dan pengajian rutinnya. Sedangkan mesjid Marocco biasanya menggunakan bahasa Arab atau bahasa Barber, bahasa yang banyak digunakan masyarakat Marocco. Jadi banyak pilihan jika kita ingin melaksanakan sholat Jumat atau sholat tarawih. Masyarakat Indonesia di Belanda terdiri dari golongan manula yang sudah puluhan tahun bermukim di Belanda, golongan yang lebih muda dan tentu saja mahasiswa Indonesia. Di sekitar rumah kita di Schiedam (kira-kira 7km dari pusat kota Rotterdam) juga ada beberapa keluarga Indonesia. Di bulan Ramadhan ini kita rutin bergiliran mengadakan buka puasa bersama. Pertemanan di rantau memang berbeda, hampir tidak ada bedanya teman dengan saudara semua berusaha saling menjaga silaturahmi dan membantu kalo ada teman yang sedang dilanda kesulitan. Suatu hal yang kadang menjadi hal yang langka di tanah air terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Selain itu seperti tahun lalu setiap minggu aku dan keluarga rutin berbuka puasa dengan teman-teman mahasiswa di Rotterdam, PPMR (Persatuan Pelajar Muslim Rotterdam).

Ramadhan tahun ini jatuh pada musim panas (summer). Musim panas yang berarti waktu siang lebih panjang dari malam merupakan tantangan tersendiri bagi Ramadhan tahun ini. Hari pertama Ramadhan Subuh jatuh sekitar pukul4 pagi dan waktu magrib sekitar jam21.30 malam. Suhu di musim panas di Belanda berkisar antara 20-30C. Tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, musim panas tahun ini udara tidak terlalu panas berkisar 16-23C dengan kelembaban yang rendah dan angin yang biasanya bertiup cukup kencang cukup membantu bagi umat muslim yang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Hari ini yang Insya Allah merupakan hari terakhir puasa, waktu Subuh sekitar jam5 dan nanti sore akan berbuka sekitar jam20.30. Jadi dari waktu berpuasa memang lebih panjang tapi bila dibandingkan dengan di tanah air, puasa di Belanda sebenarnya tidak seberat yang dibayangkan.

Muslim sebagai golongan minoritas di negara sekuler seperti Belanda maka tentu saja 1 Syawal atau Idul Fitri bukan merupakan hari libur. Kegiatan belajar mengajar dan kerja di kantor berjalan seperti biasanya. El Furkan tempat anakku bersekolah walaupun sekolah negeri tetapi karena merupakan sekolah Islam menerapkan kebijaksanaan untuk meliburkan kegiatan belajar mengajarnya selama 3 hari. Aku sendiri hanya cuti 2 hari dari kantor jauh berbeda dengan teman-teman di tanah air yang biasanya cuti 1-2 minggu untuk merayakan lebaran di kampung halaman. Di Belanda biasanya bulan Juni sampai Agustus disebut sebagai Vakantie Periode atau Masa Liburan. Dengan jumlah cuti yang berkisar 20-40hari kerja, mayoritas pekerja libur 3-6 minggu. Malah ada yang sampai cuti 9 minggu. Hal yang nyaris mustahil terjadi di tanah air. Bisa kena pecat tuh kalo coba-coba berani cuti selama itu hehe....Sekolah negeri di Belanda bebas dari biaya alias Gratis. Biasanya orangtua hanya perlu membayar uang sekitar eur40/tahun (Rp500ribu) untuk biaya schooltrip, hadiah dll. Dan dijamin bebas pungli dan biaya siluman lain seperti uang bangunan yang lazim terjadi di tanah air. Tapi orangtua jangan coba-coba mengajak anaknya untuk bolos sekolah saat bukan waktu liburan bisa-bisa kena denda yang berkisar eur50-100 (Rp600rb-1.2juta) per harinya. Bikin bokek dan bikin manyun hahaha...kapok deh kalo sampai harus bayar. Sisi positifnya anak jadi terbiasa tidak membolos. Karena itu Ramadhan tahun ini keluarga Indonesia yang mempunyai anak usia sekolah hampir bisa dipastikan berlebaran di rantau.

Bulan Ramadhan sebagai bulan pendidikan mudah-mudahan bisa melecut semangat kita untuk berusaha menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang. Kita hanya bisa berdo'a mudah-mudahan kita bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan.Dan besok kita bisa mengucapkan "Minal Aidin wal Faidzin", Selamat kembali dari kemenangan.Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini diterima oleh Allah SWT, Amiiiin....

Friday, July 29, 2011

Marhaban ya Ramadhan

Insya Allah 2 hari lagi Ramadhan tahun ini akan tiba. Entah kenapa, setiap tahun ketika akan memasuki bulan Ramadhan aku selalu ingat dengan sebuah lagu yang syairnya kira-kira begini:
Bulan suci Ramadhan bulan yang mulia
Mari kita sambut dengan gembira
Siang malam tiada henti berbakti pada Illahi Rabbi
Ramadhan.....Ramadhan......

Lagu tersebut selalu aku dengar ketika bersantap sahur dari siaran sebuah radio swasta di tempat kami tinggal di Kisaran. Aku masih ingat ketika itu sekitar pertengahan tahun 80-an di tanah air hanya ada satu stasiun tv pemerintah yaitu TVRI. Bersantap sahur biasanya hanya ditemani siaran radio diselingi canda tawa dengan sesama anggota keluarga. Masih lekat di ingatanku aku sebagai anak bungsu dari empat bersaudara selalu bangun paling terakhir dan itu butuh perjuangan panjang dari Mama dan dua kakak perempuanku untuk memaksaku bangun dan makan sahur. Dan seperti biasanya kami makan sahur sekeluarga, aku tentu saja makan sambil tetap menahan kantuk. Ooow....I really miss that moment :-(

Waktu Imsyak di Kisaran sekitar jam5 pagi ditandai dengan bunyi sirene dari menara PDAM yang ada di Kisaran. Aku selalu menunggu detik-detik terakhir Imsyak ini. Ketika sirene mulai bunyi biasanya aku berusaha minum sebanyak-banyaknya untuk menghindari rasa haus di siang hari. Suhu di Kisaran berkisar 29-32C dengan kelembaban yang tinggi jadi cukup menguras tenaga bila dibandingkan dengan tempat aku tinggal sekarang di Schiedam yang ketika summer pun masih berkisar 18-25C.

Seminggu pertama puasa semua sekolah diliburkan. Dan itu adalah masa-masa yang sangat menyenangkan. Biasanya setelah sholat Subuh aku dengan teman2ku berkeliling kota Kisaran dengan naik sepeda. Kadang kala kami "pinjam" becak yang parkir dekat halaman mesjid. Pinjam dalam artian dipakai tanpa permisi dengan si Abang becaknya hahaha......becak itu kami bawa berkeliling, yang ikut 5-10 orang. Nanti satu atau dua orang kebagian tugas mengembalikan becak yang di"pinjam" tadi, tentu saja harus diam2 jangan sampai si Abangnya tau. Kalo sedang apes yang kebagian tugas tadi ketangkep dan dimarahin ama si Abangnya tapi namanya anak kecil besoknya "pinjam" lagi hahaha....Kadang supaya badan tetap segar setelah agak siangan rame-rame mandi di sungai, minum sedikit kan ga papa namanya juga ga sengaja hehe.....Nostalgia masa kecil memang ga pernah membosankan.

Marhaban ya Ramadhan.....
Mudah-mudahan Ramadhan kali ini bisa lebih baik dari sebelumnya, amiiiin....

Saturday, June 18, 2011

Kantor baruku

Papendrecht, Spring 2011

Ga kerasa udah beberapa bulan ini aku kerja di Jacobs Engineering Nederland di Leiden. Satu minggu pertama aku mesti ngantor di Amsterdam, lumayan melelahkan 100 km dari rumahku. Tetapi mulai minggu kedua kantorku pindah ke Leiden. Leiden berjarak sekitar 65 km dari Papendrecht sekitar 80 menit perjalanan. Sebuah kota yang setiap hari selalu sibuk dengan aktifitas dan tingkah polah warganya maupun warga pendatang yang sehari-hari mengais rejeki di kota tua ini. Universiteit Leiden adalah universitas tertua di Belanda, didirikan tahun 1575 dan sudah banyak menghasilkan tokoh-tokoh ternama di Belanda dan juga berperan penting dalam pergerakan menuju Indonesia merdeka, salah satu tokohnya yang terkenal Sutan Syahrir.

Kantorku terletak sekitar 2 km dari Leiden Centraal Station. Ada dua pilihan moda transport dari station menuju ke kantorku. Ada shuttle bus yang disediakan kantor, van dengan kapasitas 10 orang yang selalu siap mengantar dari station ke kantor dan sebaliknya setiap pagi dan sore. Pilihan kedua yang menurutku unik, kita boleh memilih untuk naik sepeda. Sepeda yang akan digunakan disewa selama setahun dari salah satu toko sepeda yang ada di station. Jadi setiap pagi kita ambil sepeda kita di toko tsb dan kemudian sore harinya sepeda tsb kita parkir kembali didalam toko sepeda tadi. Istilah kerennya "sepeda dinas" ga kalah keren kan dengan pejabat di tanah air yang biasanya dapat mobil dinas untuk kegiatan sehari-hari hehe....10 menit bersepeda dari station ke kantor lumayan membantu menyegarkan badan dan menghilangkan kantuk selama di perjalanan.

Dan seperti kebiasaan di Belanda, semua orang berlomba-lomba naik sepeda tanpa memandang status sosial, usia atau pekerjaan. Bukan hal yang aneh seorang Profesor ke kampus naik sepeda, atau ketemu Manager dengan memakai jas dan berdasi sedang asyik mengayuh sepedanya. Semua orang lebih mementingkan fungsi dari sepeda tersebut daripada sibuk memikirkan gengsi atau malu. Selain menyehatkan juga ramah lingkungan menikmati perjalanan ke kantor diiringi kicau burung di pagi hari. Kadang aku bermimpi, kapan yah orang-orang di tanah air lebih mementingkan fungsi daripada gengsi. Menjadi pragmatis itu lebih sering menguntungkan kok daripada sibuk jaga gengsi. Satu hal yang perlu ditiru "Fungsional".

Hal kedua yang sangat berbeda dengan kantorku dulu di Jakarta atau di K.Lumpur, di kantorku yang sekarang aku sering ketemu dengan manula. Iya...manula alias Opa atau Oma. Orang Belanda selain ditunjang dengan tingkat kesehatannya yang cukup baik, mereka pensiun di usia 65 tahun. Coba kita bandingkin dengan di tanah air, karyawan swasta biasanya pensiun di usia 56 tahun. Ga heran di kantorku banyak manula yang masih produktif terutama di departmentku Structural Department. Boleh percaya boleh nggak aku yang paling muda dari semuanya, yang lain? 1 orang Italiano seumuranku dan sayangnya minggu lalu udah resign, 1 orang Scottish 48 tahun, Dutch 56 tahun dan selebihnya Opa-Opa Dutch dan British yang usianya udah 60 tahunan. Ga heran kalo biasanya di kantor pembicaraan berkisar sekolah anak, kelahiran anak, musik yang lagi ngetrend dll tapi di Departmentku pembicaraan berkisar kelahiran cucu, kematian istri, kapan pensiun dll hahahaha.....Untungnya selama ini pembicaraan tetap nyambung dan semua baik-baik terutama Opa Bert yang duduk disebelahku yang usianya sudah menginjak 67 tahun, sudah pensiun tapi meutuskan back to office karena merasa masih produktif di usia senjanya. Satu hal yang perlu ditiru "Work Attitude".

Satu lagi hal yang menarik. HSE (Health Safety and Environment) bener2 diperhatikan. 2x seminggu ada supply buah-buahan segar. Ada coffee machine, mesin otomatis untuk jajan, microwave, kulkas dll. Boleh jadi biar Opa-Opa di kantorku sehat wal'afiat hehe...Dan jangan pernah ngebayangin ada yang lembur. Dengan waktu kerja yang flexible 40 jam seminggu, banyak yang dateng jam 7 atau 8 supaya bisa pulang jam 3 atau 4 sore. Beda banget dengan temen-temenku di Jakarta dan KL yang dengan alasan terjebak macet sampai pukul 9 atau 10 masih betah lembur di kantor. Masih ditambah Sabtu atau malah Minggu masih bela2in dateng ke kantor. It's totally no life......Satu hal yang aku pelajari "Effektifitas".

Tidak semua hal dari anak cucu penjajah nenek kakek kita itu jelek.
Selalu berfikir dan bertindak positif